Wednesday, March 22, 2006

Suara Merdeka:Banjir!!!!!!!

Line
Rabu, 22 Maret 2006 NASIONAL
Line

4.000 Warga Desa Tempur Terisolasi


WILAYAH TERISOLASI: Jembatan yang menghubungkan Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Jepara, ke Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati, di atas Sungai Gelis, terputus disapu banjir bandang. Akibatnya desa itu hingga Selasa (21/3) menjadi wilayah terisolasi dan warga juga terganggu aktivitasnya.(30t)


JEPARA- Banjir bandang disertai bencana tanah longsor di sepanjang Sungai Gelis, Senin (20/3), menyebabkan sekitar 4.000 penduduk Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, terisolasi.

Dua jalur utama menuju desa tersebut, dari Pati maupun Jepara, juga tak bisa dilalui. Sulitnya akses keluar desa berikut ketersediaan pangan menjadi persoalan paling serius di desa yang terletak di lereng Gunung Muria itu. Warga desa itu tinggal di enam dukuh, yakni Dukuh Kemiren, Petung, Duplak, Pekoso, Glagah, dan Karangrejo.

Dari pantauan Selasa (21/3), dari arah Desa Jlegong-Damarwulan, Kecamatan Keling, setidaknya ada delapan titik jalan utama menuju desa yang tertimbun longsoran. Tiap titik, tertutup longsoran tanah, kayu, dan bongkahan batu besar sejauh antara 50-100 meter.

Sementara di jarak 2,5 km menuju perkampungan Desa Tempur, badan jalan hilang tak bersisa dan berubah menjadi bagian dari Sungai Gelis dengan arus air yang masih cukup deras. Adapun dari arah Desa Medani-Payak, Kecamatan Cluwak, Pati, jalan menuju Desa Tempur juga lumpuh total.

Hampir di sepanjang jalan menuju perkampungan desa tertutup longsoran. Tiga jembatan vital di Desa Tempur juga tak berbekas. Yang hanyut adalah Jembatan Kaliombo yang menghubungkan Desa Tempur ke Desa Medani, jembatan Pule, dan jembatan Pondok Ruyung. Sedangkan jembatan Godang di ujung selatan desa masih bisa berfungsi.

Gunawan, Kades Desa Tempur mengatakan, tak ada satu pun korban jiwa dalam bencana alam paling buruk dalam 60 tahun terakhir di Tempur. Namun kerugian materi sangat besar. Empat rumah di desa itu hanyut tak berbekas, termasuk satu kios dan rumah makan yang ada di pinggir Sungai Gelis. Sebuah mobil pickap milik Slamet Sutrisno hanyut dan hilang, demikian pula tanaman padi siap panen berikut lahan yang ada di pinggir sepanjang Sungai Gelis. Saluran pipa air bersih juga terputus.

Pendataan dari PT PLN Unit Pengelola Jaringan (UPJ) Bangsri menyebutkan, setidaknya 25 tiang listrik di sepanjang desa roboh, sehingga sejak Senin (20/3) wilayah itu tanpa penerangan. ''Warga terpaksa menggunakan lampu teplok,'' kata Gunawan.

Pada saat yang sama, jembatan sepanjang kira-kira 60 meter yang menghubungkan Desa Damarwulan dan Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak Pati juga terputus. Jembatan dan badan jalan itu nyaris tak tersisa.

Sekitar 150 pelajar dari Desa Damarwulan yang sekolah di Desa Sirahan tak bisa beraktivitas. Demikian pula dengan dengan ratusan petani dan pedagang. Sementara itu, jembatan sepanjang 100 meter yang menghubungkan Desa Damarwulan ke Desa Kelet dan pusat Kecamatan Keling, kritis. Penghubung itu bergeser dan anjlok beberapa sentimeter setelah tenggelam selama dua jam di tengah terjangan banjir bandang.

Hingga Selasa (20/3) sore, warga Desa Tempur tak bisa keluar perkampungan. Demikian juga, warga dari luar tak bisa masuk ke desa yang terletak di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut (dpl) itu.

Mereka kesulitan mencari dan membeli bahan kebutuhan sehari-hari seperti beras, lauk-pauk, dan juga minyak tanah.

Beberapa warga, nekat keluar desa dengan menuruni jalan-jalan yang tertimbun longsoran. Mereka rela bergelantungan berpegangan semak-semak untuk bisa keluar desa, karena jalan desa hilang dan menyatu dengan Sungai Gelis. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka harus berjalan kaki sejauh 12 km ke Pasar Kelet atau ke pusat kecamatan. Sebenarnya ada jalan lain keluar desa, yaitu lewat arah barat. Hanya saja, menurut warga, harus melewati jalan setapak dengan medan terjal sepanjang 6 km menuju Desa Sumanding dan Desa Bucu.

Gunawan mengatakan, banjir bandang disertai longsoran itu terjadi selama tiga jam, mulai pukul 10:00-13:00. Air sangat besar dengan membawa kayu, batu-batu besar, dan sampah. ''Suaranya bergemuruh, sehingga warga yang hendak memenen padi di sawah pinggir sungai berlari ke daerah lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Kejadian itu sangat mengerikan,'' katanya.

Siang kemarin Bupati Hendro Martojo didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Ir Sholih MM langsung meninjau lokasi. Pemkab juga mebentuk tim penananganan darurat, agar beban warga di Desa Tempur bisa berkurang.

Hendro martojo mengatakan, pihaknya akan mengirim tiga ton beras berikut 250 liter minyak tanah, dan 200 liter solar. Rencananya, solar digunakan sebagai bahan bakar enam diesel di desa untuk penerangan sementara.

Pemkab dan warga desa juga akan bergotong royong memmbangun jembatan darurat dari bambu untuk kebutuhan penyaluran bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari. ''Kami berharap jembatan dari sasak bambu nanti bisa dilewati sepeda motor, agar warga memiliki akses untuk keluar desa,'' katanya.

Sholih mengalkulasi kerugian materi dari bencana itu mencapai Rp 9 miliar. Kepala PT PLN UPJ Bangsri Agus Setyawan mengatakan pihaknya mengaku belum bisa memperbaiki jaringan listrik, sebelum sarana tranportasi bisa dilalui. Pihaknya memperkirakan kerugian yang diderita PT PLN dari bencana itu mencarai Rp 40 juta.

Masih Tersendat

Sampai dengan Selasa (21/3) kemarin, mobilitas warga Dukuh Semlira, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, masih tersendat. Pasalnya, akses masuk berupa jembatan Sahkeli dan Gak Kali yang menuju perdukukan yang berketinggian sekitar 1.500 di atas permukaan laut itu hancur diterjang banjir bandang pada Senin (20/3) lalu.

Meski telah dibangun jembatan darurat dari bambu, sedikitnya 80 kepala keluarga (KK) di RT 3 dan RT 4 mengaku kesulitan ketika harus pergi keluar dari wilayah itu. Soalnya, jembatan tersebut hanya dapat dilalui warga dengan berjalan kaki.

''Kami kini tak lagi bebas berpergian, belum lagi listrik sampai siang ini masih mati,'' kata Kadus IV Rahtawu, Sugiyanto.

Tak hanya itu, satu-satunya sekolah dasar di tempat tersebut, yakni SDN 4 Rahtawu, hingga kini masih meliburkan siswanya karena sulitnya akses menuju ke lokasi tersebut. Siswa SD yang berdomisili di RT 4 harus mencari jalan alternatif sejauh dua kilometer, jika ingin menuju sekolahnya.

Selain Suntono (27), yang telah ditemukan sudah tak bernyawa Senin lalu, korban banjir bandang bertambah seorang lagi. Warga RT 4 RW 3, Sukanah (36), yang dikabarkan hilang, pada Selasa (21/3) sekitar pukul 06.30 ditemukan warga di Dukuh Gingsir, lima kilo dari tempatnya semula berada.

Kondisi ibu dua anak tersebut juga sangat mengenaskan, karena kepala bagian belakangnya ''hilang''. Istri dari Kemiran hari itu juga dimakamkan di pemakaman setempat.

''Kemungkinan kepala Sukanah terbentur batu. Korban terseret sekitar lima kilometer dari tempatnya semula,'' kata Sugiyanto.

Besarnya banjir bandang tersebut dirasakan paling besar dalam setengah abad ini. Seorang warga, Saman (84), mengaku, mengalami hal serupa sekitar tahun 1950-an.

''Namun dibandingkan dengan banjir bandang beberapa bulan yang lalu, ini yang terparah,'' ungkapnya.

Hancurnya sejumlah rumah dan sarana fisik kemungkinan akan membuat Pemkab merelokasi kepala keluarga yang mendiami daerah ''rawan''. Pada musibah kemarin saja, tiga rumah hanyut, sementara dua lainnya rusak parah.

Bupati Kudus Ir HM Tamzil yang mengunjungi lokasi musibah bersama jajaran Muspida menyatakan, warga yang rumahnya terancam ambrol akibat diterjang air bah bisa jadi akan direlokasi. Mengingat lokasi rumah tersebut dinilai sudah membahayakan penghuninya, karena berada di bibir jurang yang longsor.

''Kami meminta pihak desa untuk mencatat rumah-rumah mana saja yang perlu direlokasi. Jika masih di tempat tersebut, khawatir akan ada korban lagi saat banjir susulan,'' katanya.

Pihak Pemkab juga telah membantu biaya perbaikan rumah Rp 1,5 juta untuk beberapa warga korban banjir bandang. Tak hanya itu, santunan kepada dua keluarga korban yang meninggal dunia serta pasokan logistik untuk warga yang sampai kemarin masih terisolasi, akan terus dikirimkan.

Dua Desa

Sementara itu dari 21 desa di wilayah Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, hanya dua desa yang Senin (20/3) lalu terbebas dari amuk banjir bandang. Banjir disertai gelontoran lumpur cokelat pekat akibat meluapnya air Kali Tayu tersebut merupakan paling besar selama sepuluh tahun terakhir ini.

Dua desa di wilayah kerjanya yang terbebas dari sapuan banjir bandang tersebut adalah Bendokaton Kidul dan Kedungbang. Akan tetapi fasilitas sarana umum berupa jembatan yang membentang di alur Kali Tayu kini kritis setelah dihantam amukan air.

Sedangkan 19 desa lain yang tak bisa terhindar dari amukan banjir tersebut adalah Tayu Wetan, Tayu Kulon, Sambiroto, Keboromo, Jepat Lor, Jepat Kidul, Margomulyo, Kedungsari, Pakis, Pondowan, Sendangrejo, Dororejo, Luwang, dan Kalikalong. Selebihnya adalah Pundenrejo, Bulungan, Tunggulsari, dan Tendas.

Untuk sementara laporan data rumah roboh yang diterima pihaknya, baru dari tiga desa. Yaitu Tayu Kulon (4 rumah), Tayu Wetan (4), dan Pondowan terhitung paling banyak karena lebih dari 30 rumah, belum lagi harta benda milik warga yang hanyut terbawa air, termasuk hewan piaraan sapi serta kambing.

Banjir bandang sekitar pukul 11.15 tersebut juga mengakibatkan runtuhnya jembatan rel lori, yang statusnya milik bekas Pabrik Gula (PG) Pakis Baru. Runtuhnya jembatan tersebut nyaris menghantam jembatan utama yang hanya kurang dari satu meter di sisi timurnya.

Akibat runtuhnya jembatan rel lori tersebut, kini tumpukan sampah menyangkut di tempat tersebut. (H15,H8,ad-46,64t)

Suara Merdeka:Banjir!!!!!!!!!!

logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 22 Maret 2006 NASIONAL
Line

4.000 Warga Desa Tempur Terisolasi


WILAYAH TERISOLASI: Jembatan yang menghubungkan Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Jepara, ke Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati, di atas Sungai Gelis, terputus disapu banjir bandang. Akibatnya desa itu hingga Selasa (21/3) menjadi wilayah terisolasi dan warga juga terganggu aktivitasnya.(30t)


JEPARA- Banjir bandang disertai bencana tanah longsor di sepanjang Sungai Gelis, Senin (20/3), menyebabkan sekitar 4.000 penduduk Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, terisolasi.

Dua jalur utama menuju desa tersebut, dari Pati maupun Jepara, juga tak bisa dilalui. Sulitnya akses keluar desa berikut ketersediaan pangan menjadi persoalan paling serius di desa yang terletak di lereng Gunung Muria itu. Warga desa itu tinggal di enam dukuh, yakni Dukuh Kemiren, Petung, Duplak, Pekoso, Glagah, dan Karangrejo.

Dari pantauan Selasa (21/3), dari arah Desa Jlegong-Damarwulan, Kecamatan Keling, setidaknya ada delapan titik jalan utama menuju desa yang tertimbun longsoran. Tiap titik, tertutup longsoran tanah, kayu, dan bongkahan batu besar sejauh antara 50-100 meter.

Sementara di jarak 2,5 km menuju perkampungan Desa Tempur, badan jalan hilang tak bersisa dan berubah menjadi bagian dari Sungai Gelis dengan arus air yang masih cukup deras. Adapun dari arah Desa Medani-Payak, Kecamatan Cluwak, Pati, jalan menuju Desa Tempur juga lumpuh total.

Hampir di sepanjang jalan menuju perkampungan desa tertutup longsoran. Tiga jembatan vital di Desa Tempur juga tak berbekas. Yang hanyut adalah Jembatan Kaliombo yang menghubungkan Desa Tempur ke Desa Medani, jembatan Pule, dan jembatan Pondok Ruyung. Sedangkan jembatan Godang di ujung selatan desa masih bisa berfungsi.

Gunawan, Kades Desa Tempur mengatakan, tak ada satu pun korban jiwa dalam bencana alam paling buruk dalam 60 tahun terakhir di Tempur. Namun kerugian materi sangat besar. Empat rumah di desa itu hanyut tak berbekas, termasuk satu kios dan rumah makan yang ada di pinggir Sungai Gelis. Sebuah mobil pickap milik Slamet Sutrisno hanyut dan hilang, demikian pula tanaman padi siap panen berikut lahan yang ada di pinggir sepanjang Sungai Gelis. Saluran pipa air bersih juga terputus.

Pendataan dari PT PLN Unit Pengelola Jaringan (UPJ) Bangsri menyebutkan, setidaknya 25 tiang listrik di sepanjang desa roboh, sehingga sejak Senin (20/3) wilayah itu tanpa penerangan. ''Warga terpaksa menggunakan lampu teplok,'' kata Gunawan.

Pada saat yang sama, jembatan sepanjang kira-kira 60 meter yang menghubungkan Desa Damarwulan dan Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak Pati juga terputus. Jembatan dan badan jalan itu nyaris tak tersisa.

Sekitar 150 pelajar dari Desa Damarwulan yang sekolah di Desa Sirahan tak bisa beraktivitas. Demikian pula dengan dengan ratusan petani dan pedagang. Sementara itu, jembatan sepanjang 100 meter yang menghubungkan Desa Damarwulan ke Desa Kelet dan pusat Kecamatan Keling, kritis. Penghubung itu bergeser dan anjlok beberapa sentimeter setelah tenggelam selama dua jam di tengah terjangan banjir bandang.

Hingga Selasa (20/3) sore, warga Desa Tempur tak bisa keluar perkampungan. Demikian juga, warga dari luar tak bisa masuk ke desa yang terletak di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut (dpl) itu.

Mereka kesulitan mencari dan membeli bahan kebutuhan sehari-hari seperti beras, lauk-pauk, dan juga minyak tanah.

Beberapa warga, nekat keluar desa dengan menuruni jalan-jalan yang tertimbun longsoran. Mereka rela bergelantungan berpegangan semak-semak untuk bisa keluar desa, karena jalan desa hilang dan menyatu dengan Sungai Gelis. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka harus berjalan kaki sejauh 12 km ke Pasar Kelet atau ke pusat kecamatan. Sebenarnya ada jalan lain keluar desa, yaitu lewat arah barat. Hanya saja, menurut warga, harus melewati jalan setapak dengan medan terjal sepanjang 6 km menuju Desa Sumanding dan Desa Bucu.

Gunawan mengatakan, banjir bandang disertai longsoran itu terjadi selama tiga jam, mulai pukul 10:00-13:00. Air sangat besar dengan membawa kayu, batu-batu besar, dan sampah. ''Suaranya bergemuruh, sehingga warga yang hendak memenen padi di sawah pinggir sungai berlari ke daerah lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Kejadian itu sangat mengerikan,'' katanya.

Siang kemarin Bupati Hendro Martojo didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Ir Sholih MM langsung meninjau lokasi. Pemkab juga mebentuk tim penananganan darurat, agar beban warga di Desa Tempur bisa berkurang.

Hendro martojo mengatakan, pihaknya akan mengirim tiga ton beras berikut 250 liter minyak tanah, dan 200 liter solar. Rencananya, solar digunakan sebagai bahan bakar enam diesel di desa untuk penerangan sementara.

Pemkab dan warga desa juga akan bergotong royong memmbangun jembatan darurat dari bambu untuk kebutuhan penyaluran bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari. ''Kami berharap jembatan dari sasak bambu nanti bisa dilewati sepeda motor, agar warga memiliki akses untuk keluar desa,'' katanya.

Sholih mengalkulasi kerugian materi dari bencana itu mencapai Rp 9 miliar. Kepala PT PLN UPJ Bangsri Agus Setyawan mengatakan pihaknya mengaku belum bisa memperbaiki jaringan listrik, sebelum sarana tranportasi bisa dilalui. Pihaknya memperkirakan kerugian yang diderita PT PLN dari bencana itu mencarai Rp 40 juta.

Masih Tersendat

Sampai dengan Selasa (21/3) kemarin, mobilitas warga Dukuh Semlira, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, masih tersendat. Pasalnya, akses masuk berupa jembatan Sahkeli dan Gak Kali yang menuju perdukukan yang berketinggian sekitar 1.500 di atas permukaan laut itu hancur diterjang banjir bandang pada Senin (20/3) lalu.

Meski telah dibangun jembatan darurat dari bambu, sedikitnya 80 kepala keluarga (KK) di RT 3 dan RT 4 mengaku kesulitan ketika harus pergi keluar dari wilayah itu. Soalnya, jembatan tersebut hanya dapat dilalui warga dengan berjalan kaki.

''Kami kini tak lagi bebas berpergian, belum lagi listrik sampai siang ini masih mati,'' kata Kadus IV Rahtawu, Sugiyanto.

Tak hanya itu, satu-satunya sekolah dasar di tempat tersebut, yakni SDN 4 Rahtawu, hingga kini masih meliburkan siswanya karena sulitnya akses menuju ke lokasi tersebut. Siswa SD yang berdomisili di RT 4 harus mencari jalan alternatif sejauh dua kilometer, jika ingin menuju sekolahnya.

Selain Suntono (27), yang telah ditemukan sudah tak bernyawa Senin lalu, korban banjir bandang bertambah seorang lagi. Warga RT 4 RW 3, Sukanah (36), yang dikabarkan hilang, pada Selasa (21/3) sekitar pukul 06.30 ditemukan warga di Dukuh Gingsir, lima kilo dari tempatnya semula berada.

Kondisi ibu dua anak tersebut juga sangat mengenaskan, karena kepala bagian belakangnya ''hilang''. Istri dari Kemiran hari itu juga dimakamkan di pemakaman setempat.

''Kemungkinan kepala Sukanah terbentur batu. Korban terseret sekitar lima kilometer dari tempatnya semula,'' kata Sugiyanto.

Besarnya banjir bandang tersebut dirasakan paling besar dalam setengah abad ini. Seorang warga, Saman (84), mengaku, mengalami hal serupa sekitar tahun 1950-an.

''Namun dibandingkan dengan banjir bandang beberapa bulan yang lalu, ini yang terparah,'' ungkapnya.

Hancurnya sejumlah rumah dan sarana fisik kemungkinan akan membuat Pemkab merelokasi kepala keluarga yang mendiami daerah ''rawan''. Pada musibah kemarin saja, tiga rumah hanyut, sementara dua lainnya rusak parah.

Bupati Kudus Ir HM Tamzil yang mengunjungi lokasi musibah bersama jajaran Muspida menyatakan, warga yang rumahnya terancam ambrol akibat diterjang air bah bisa jadi akan direlokasi. Mengingat lokasi rumah tersebut dinilai sudah membahayakan penghuninya, karena berada di bibir jurang yang longsor.

''Kami meminta pihak desa untuk mencatat rumah-rumah mana saja yang perlu direlokasi. Jika masih di tempat tersebut, khawatir akan ada korban lagi saat banjir susulan,'' katanya.

Pihak Pemkab juga telah membantu biaya perbaikan rumah Rp 1,5 juta untuk beberapa warga korban banjir bandang. Tak hanya itu, santunan kepada dua keluarga korban yang meninggal dunia serta pasokan logistik untuk warga yang sampai kemarin masih terisolasi, akan terus dikirimkan.

Dua Desa

Sementara itu dari 21 desa di wilayah Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, hanya dua desa yang Senin (20/3) lalu terbebas dari amuk banjir bandang. Banjir disertai gelontoran lumpur cokelat pekat akibat meluapnya air Kali Tayu tersebut merupakan paling besar selama sepuluh tahun terakhir ini.

Dua desa di wilayah kerjanya yang terbebas dari sapuan banjir bandang tersebut adalah Bendokaton Kidul dan Kedungbang. Akan tetapi fasilitas sarana umum berupa jembatan yang membentang di alur Kali Tayu kini kritis setelah dihantam amukan air.

Sedangkan 19 desa lain yang tak bisa terhindar dari amukan banjir tersebut adalah Tayu Wetan, Tayu Kulon, Sambiroto, Keboromo, Jepat Lor, Jepat Kidul, Margomulyo, Kedungsari, Pakis, Pondowan, Sendangrejo, Dororejo, Luwang, dan Kalikalong. Selebihnya adalah Pundenrejo, Bulungan, Tunggulsari, dan Tendas.

Untuk sementara laporan data rumah roboh yang diterima pihaknya, baru dari tiga desa. Yaitu Tayu Kulon (4 rumah), Tayu Wetan (4), dan Pondowan terhitung paling banyak karena lebih dari 30 rumah, belum lagi harta benda milik warga yang hanyut terbawa air, termasuk hewan piaraan sapi serta kambing.

Banjir bandang sekitar pukul 11.15 tersebut juga mengakibatkan runtuhnya jembatan rel lori, yang statusnya milik bekas Pabrik Gula (PG) Pakis Baru. Runtuhnya jembatan tersebut nyaris menghantam jembatan utama yang hanya kurang dari satu meter di sisi timurnya.

Akibat runtuhnya jembatan rel lori tersebut, kini tumpukan sampah menyangkut di tempat tersebut. (H15,H8,ad-46,64t)